
Hampir setiap hari melihat ada orang yang marah, tidak aneh lagi karena marah memang sifat yang tak bisa hilang dari manusia. Tapi ketika orang mengatakan "hilangkan sifat marahmu itu?" benarkah itu permintaan yang bisa dilaksanakan? kurasa tak mungkin. Marah itu juga dari Allah, itu nikmat karenanya marah tak bisa hilang dari diri manusia. Yang bisa dilakukan adalah mengarahkan sifat marah itu. Mengarahkannya kearah yang lebih baik. Yah tentu bisa.
Aku pernah mendengar satu cerita saat mengikuti seminar. Diceritakan ada seorang yang suka marah, tak pandai mengendalikan emosi hingga tak sadar entah berapa banyak orang yang dibuatnya sakit hati. Seseorang memberikannya solusi untuk menahan emosinya. Setiap kali ingin marah disuruhnya untuk menahan emosi itu. Tidak membiarkannya marah tapi melampiaskannya dengan menancapkan paku ketembok dengan palu. Begitu seterusnya, setiap kali marah paku itu terus ditancapkannya. Dan lama kelamaan temboknya penuh dengan paku. Emosinya sedikit demi sedikit surut. Dan langkah selanjutnya adalah mencabut paku di tembok jika dia memaafkan orang lain. Subhanallah hal itu dilakukan sampai paku itu habis. Namun bagaimanapun dia berusaha memaafkan orang itu tembok itu tetap saja ada bekas tancapan pakunya. Begitulah mungkin hati seseorang yang kita sakiti hatinya. Mengatakan atau berusaha memaafkan kita namun ternyata hatinya tetap saja ada rasa sakitnya.
Cerita ini mengajarkan kita bagaimana caranya berusaha menahan marah atau emosi kepada orang lain. Karena marah itu menyebabkan hati orang sakit dan jikapun kita sudah meminta maaf maka tusukan dihati orang tersebut tetap saja membekas.
WAhai kawan mari kita berusaha mengarahkan marah kita karena mustahil menghilangkannya. HAnya Allah yang mampu melakukannya.
Dan ingatlah bahwa semua yang Allah jadikan itu baik. Iman...Iman...Iman... ALLAHUAKBAR
Aku pernah mendengar satu cerita saat mengikuti seminar. Diceritakan ada seorang yang suka marah, tak pandai mengendalikan emosi hingga tak sadar entah berapa banyak orang yang dibuatnya sakit hati. Seseorang memberikannya solusi untuk menahan emosinya. Setiap kali ingin marah disuruhnya untuk menahan emosi itu. Tidak membiarkannya marah tapi melampiaskannya dengan menancapkan paku ketembok dengan palu. Begitu seterusnya, setiap kali marah paku itu terus ditancapkannya. Dan lama kelamaan temboknya penuh dengan paku. Emosinya sedikit demi sedikit surut. Dan langkah selanjutnya adalah mencabut paku di tembok jika dia memaafkan orang lain. Subhanallah hal itu dilakukan sampai paku itu habis. Namun bagaimanapun dia berusaha memaafkan orang itu tembok itu tetap saja ada bekas tancapan pakunya. Begitulah mungkin hati seseorang yang kita sakiti hatinya. Mengatakan atau berusaha memaafkan kita namun ternyata hatinya tetap saja ada rasa sakitnya.
Cerita ini mengajarkan kita bagaimana caranya berusaha menahan marah atau emosi kepada orang lain. Karena marah itu menyebabkan hati orang sakit dan jikapun kita sudah meminta maaf maka tusukan dihati orang tersebut tetap saja membekas.
WAhai kawan mari kita berusaha mengarahkan marah kita karena mustahil menghilangkannya. HAnya Allah yang mampu melakukannya.
Dan ingatlah bahwa semua yang Allah jadikan itu baik. Iman...Iman...Iman... ALLAHUAKBAR

.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar